Forum PUSPA Diperkuat, Deteksi Dini Persoalan Perempuan dan Anak Digencarkan.

Sidoarjo, centralberitanews.com – Pemkab Sidoarjo kembali memperkuat peran Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Gayatri. Jejaring forum tersebut diharapkan mampu menjadi mata dan telinga pemerintah dalam mendeteksi lebih dini berbagai persoalan perempuan dan anak di tengah masyarakat.

Penguatan itu dilakukan dengan memanfaatkan jejaring yang sudah terbentuk di tingkat desa. Salah satunya melalui 76 Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak

(DRPPA) yang tersebar di 15 kecamatan. Kolaborasi juga dilakukan bersama Dinas
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3AKB), serta Forum PUSPA Gayatri Jawa Timur.

Hal tersebut mengemuka dalam audiensi Forum PUSPA bersama Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana di Rumah Dinas Wakil Bupati Sidoarjo, Senin (31/8).

Mimik menegaskan, deteksi dini menjadi kunci agar persoalan perempuan dan anak tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Karena itu, jejaring hingga tingkat desa perlu dioptimalkan agar setiap indikasi persoalan bisa segera diketahui
dan dikoordinasikan.

“Deteksi dini ini penting. Jangan sampai persoalan perempuan dan anak baru ditangani setelah menjadi masalah besar. Dengan adanya jejaring sampai tingkat
desa, kita berharap persoalan bisa lebih cepat ditemukan dan dikoordinasikan dengan perangkat daerah yang memiliki kewenangan,” ujarnya.

Baca juga :  3.862 PPPK Paruh Waktu Terima SK, Bupati Sidoarjo Subandi Tekankan Pelayanan dengan Empati dan Berakhlak

Mimik menekankan, penguatan Forum PUSPA bukan berarti membentuk forum baru di tingkat desa. Sebaliknya, jejaring dan kelembagaan yang sudah ada perlu diperkuat melalui koordinasi dan pendampingan. Kolaborasi tersebut nantinya dapat diintegrasikan dengan Ruang Bersama Indonesia (RBI).

“Yang kita bangun adalah kolaborasinya. Forum PUSPA dapat menjadi bagian dari pendampingan dan membantu melihat kebutuhan di lapangan, kemudian
dikoordinasikan dengan dinas terkait agar penanganannya tepat,” jelasnya.

Kepala Dinas PMD Sidoarjo Probo Agus Sunarno menambahkan, desa memiliki posisi strategis karena menjadi pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, penguatan koordinasi dengan desa menjadi bagian penting dalam perlindungan perempuan dan anak.

“Desa memiliki posisi yang sangat strategis karena paling dekat dengan masyarakat.

Karena itu, koordinasi dengan desa perlu diperkuat agar ketika ada indikator atau persoalan yang belum terpenuhi, dapat segera diketahui dan dicarikan tindak lanjut
bersama,” katanya.

Probo memastikan penguatan jejaring tidak diarahkan untuk memperbanyak kelembagaan di desa. Forum yang sudah ada justru diharapkan dapat saling
melengkapi melalui koordinasi sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

Advertisement

“Prinsipnya bukan memperbanyak forum, tetapi memperkuat fungsi dan koordinasi yang sudah ada,” tegasnya.

Baca juga :  Curhat Kamtibmas Polresta Sidoarjo, Serap Aspirasi Warga Desa Ketegan

Saat ini terdapat 76 DRPPA di Sidoarjo yang tersebar di Kecamatan Sedati, Buduran,
Jabon, Sukodono, Waru, Wonoayu, Taman, Sidoarjo, Krembung, Balongbendo, Tarik, Tanggulangin, Tulangan, Candi, dan Krian. Keberadaan desa-desa tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat deteksi dini sekaligus pemenuhan hak perempuan
dan anak.

Kepala Dinas P3AKB Sidoarjo Heni Kristiani mengatakan, perlindungan perempuan dan anak harus dilakukan dari hulu. Mulai pencegahan, deteksi dini, hingga
pendampingan ketika persoalan ditemukan.

Menurut Heni, persoalan anak berisiko putus sekolah, permasalahan pengasuhan,
hingga perempuan usia produktif yang belum bekerja membutuhkan perhatian bersama. “Ketika ada anak yang berisiko putus sekolah atau sudah tidak sekolah,
misalnya, jangan sampai kita hanya mengetahui setelah masalah terjadi. Forum di lapangan dapat menjadi mata dan telinga untuk melakukan deteksi dini,” ujarnya.

Selain perlindungan, pemberdayaan perempuan juga menjadi perhatian. Perempuan usia produktif yang belum bekerja didorong mendapat akses keterampilan danprogram pemberdayaan sesuai potensi wilayah.

“Pemberdayaan perempuan tidak hanya bicara perlindungan, tetapi juga bagaimana mereka bisa berdaya dan mandiri. Karena itu, program pemberdayaan perlu
dihubungkan dengan potensi desa dan program perangkat daerah,” jelas Heni.

Baca juga :  Pangkoarmada Terima Kunjungan Laksda (Purn) Agung Pramono beserta Dekan dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Hang Tuah Surabaya

Salah satu program yang dijalankan adalah Sekolah Pemberdayaan Perempuan. Pada 2025, program tersebut dilaksanakan di 10 kecamatan dengan total 250 peserta.

Tahun ini program kembali dilanjutkan di Kecamatan Balongbendo yang mencakup 23
desa dan Kecamatan Krian dengan 20 desa. Total pesertanya mencapai 80 orang.

Perwakilan Forum PUSPA Gayatri Jawa Timur Endang mengatakan, penguatan Forum PUSPA di Sidoarjo diharapkan memperluas partisipasi masyarakat dalam
perlindungan perempuan dan anak.
“Forum PUSPA hadir untuk memperkuat partisipasi masyarakat. Kami melihat titik-titik mana yang indikatornya belum terpenuhi, kemudian membantu mengoordinasikan dengan pihak yang memiliki kewenangan agar ada tindak lanjut,” katanya.

Dengan jejaring yang melibatkan pemerintah, desa, kader masyarakat, akademisi hingga organisasi profesi, Forum PUSPA diharapkan benar-benar menjadi penghubung antara persoalan yang ditemukan di lapangan dengan layanan dan
penanganan yang dibutuhkan masyarakat. (Dew).

(@.prm).

Advertisement

Pengaduan via WhatsApp?