
TULUNGAGUNG, Centralberitanews.com— Inspektorat Kabupaten Tulungagung terus mendorong penguatan budaya integritas dan pendidikan antikorupsi di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui pendekatan kreatif. Salah satu langkah inovatif yang dihadirkan adalah peluncuran film pendek berjudul PARAF TERAKHIR.
Film ini menjadi wadah edukasi sekaligus partisipasi aktif Inspektorat Kabupaten Tulungagung dalam program Pariwara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Kepala Inspektorat Kabupaten Tulungagung, Esty Purwantik, S.H., M.H., CGCAE, menyampaikan bahwa film tersebut merupakan sarana untuk menyampaikan pesan pendidikan antikorupsi melalui media audiovisual yang segar dan mudah diterima masyarakat.
”Ini merupakan salah satu inovasi kami untuk menyebarluaskan konten pendidikan antikorupsi, sekaligus bagian dari keikutsertaan kami dalam program Pariwara KPK,” ujar Esty, Jumat (25/9/2026).
Menariknya, seluruh karakter dalam film tersebut diperankan langsung oleh para staf Inspektorat Kabupaten Tulungagung.
Dalam proses produksinya, Inspektorat berkolaborasi dengan para sineas muda lokal yang tergabung dalam komunitas ANONEMA. Sinergi ini bertujuan mengemas materi pendidikan antikorupsi ke dalam bentuk karya audio-visual yang berkualitas serta relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Sinopsis Film “PARAF TERAKHIR”
Film PARAF TERAKHIR mengangkat kisah Pak Rendra, seorang auditor yang mendadak dituduh menerima suap setelah ditemukan sejumlah uang tunai di meja kerjanya. Selain uang, ditemukan pula dokumen hasil audit yang telah diubah dan tidak sesuai dengan draf asli yang disusun serta disetujui oleh Rendra.
Atas laporan aduan tersebut, Rendra dipanggil oleh Ibu Inspektur untuk memberikan klarifikasi. Rendra secara tegas membantah tuduhan itu karena meyakini telah terjadi rekayasa dokumen dan bukti untuk menjatuhkan kariernya.
Cerita kemudian berbalik menampilkan rangkaian peristiwa sebelum tuduhan muncul. Sebelum berangkat kerja, Rendra sempat berpesan kepada anaknya, Cia, agar selalu jujur saat mengikuti ujian di sekolah—sebuah pesan yang menjadi benang merah utama mengenai pentingnya kejujuran.
Setibanya di kantor, Rendra menerima draf audit dari rekannya, Pak Sugeng, yang sebelumnya mengerjakan berkas tersebut hingga larut malam. Di tengah jam kerja, Rendra menerima panggilan telepon panik yang mengabarkan bahwa Cia mengalami kecelakaan di sekolah.
Panik mendengar kabar itu, Rendra segera meninggalkan kantor. Namun, setelah dikonfirmasi kepada wali kelas, kabar tersebut terbukti hoaks dan Cia dalam keadaan baik-baik saja.
Rendra mulai menyadari kejanggalan pada nada suara dalam telepon yang terdengar datar, lalu menduga adanya manipulasi teknologi Artificial Intelligence (AI). Kecurigaan Rendra mengarah kepada Sugeng, satu-satunya orang yang masuk ke ruang kerjanya saat ia pergi.
Penggeledahan terhadap tas Sugeng akhirnya membuktikan kebenaran: ditemukan dokumen audit asli beserta uang tunai. Sugeng pun mengakui perbuatannya. Ia sengaja memanipulasi suara Cia menggunakan AI agar Rendra panik dan meninggalkan ruangan. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk menukar dokumen audit, menaruh uang di meja Rendra, serta mengambil foto sebagai bahan rekayasa tuduhan.
Motif Sugeng pun terungkap. Ia membutuhkan uang sebesar Rp200 juta untuk biaya operasi anaknya yang menderita kanker. Meski memahami beban personal Sugeng sebagai seorang ayah, Rendra dan Ibu Inspektur menegaskan bahwa kesulitan hidup tidak dapat dijadikan pembenaran untuk merusak integritas, menjebak rekan kerja, dan menggadaikan kejujuran. Pada akhirnya, Sugeng harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan tim disipliner.
Edukasi Antikorupsi dan Tantangan Era Digital
Selain menyampaikan nilai-nilai moral mendasar, PARAF TERAKHIR menyoroti tantangan pengawasan di era digital, khususnya potensi penyalahgunaan teknologi AI untuk pemalsuan bukti dan penyebaran informasi palsu. Melalui alur ceritanya, film ini menekankan pentingnya verifikasi, klarifikasi, pembuktian keaslian, serta keberanian dalam mempertahankan prinsip.
Sinergi antara jajaran internal Inspektorat dan sineas muda Tulungagung menunjukkan bahwa pesan-pesan antikorupsi dapat dikemas secara komprehensif dan adaptif.
Melalui PARAF TERAKHIR, Inspektorat Kabupaten Tulungagung menegaskan pesan utama bahwa integritas bukan sekadar slogan formalitas, melainkan prinsip mendasar yang harus tetap dipegang teguh oleh setiap ASN saat menghadapi tekanan, godaan, maupun kepentingan pribadi. Kejujuran adalah fondasi dalam menjalankan amanah, sedangkan integritas adalah benteng utama dalam menjaga kepercayaan publik.


