
Tulungagung, Centralberitanews.com – Misteri di balik penetapan harga BBM Dexlite dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Dinas Perhubungan Kabupaten Tulungagung semakin memanas. Pasalnya, angka Rp17.900 per liter tersebut bukan sekadar angka bayangan, melainkan dasar penghitungan total anggaran yang sudah dipatok secara presisi.
Dari data yang dihimpun, total pagu anggaran yang dialokasikan selaras dengan perkalian antara jumlah liter dan harga satuan yang dipatok. Dengan volume 18.419 liter, total anggaran yang muncul menunjukkan hasil yang “klop” di angka satuan Rp17.900.
Hal ini memicu kecurigaan bahwa angka tersebut bukan lagi sekadar “plafon jaga-jaga”, melainkan rencana serapan anggaran yang sudah ditetapkan sejak awal.
Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Tulungagung, Oki Sakti Nugraha Jati, berdalih bahwa tingginya harga tersebut berfungsi sebagai “cantolan” atau pengaman jika terjadi lonjakan harga BBM secara mendadak.
Namun, argumen ini dipatahkan secara tajam oleh Tim yang menelaah dokumen tersebut. Menurut Tim, jika harga Dexlite menyentuh angka Rp17.900, maka kondisi ekonomi nasional sedang dalam bahaya besar.
”Kalau harga sampai segitu (Rp17.900), negara kita sudah bangkrut, Pak. Masyarakat mungkin sudah tidak mampu beli nasi karena kenaikan BBM pasti diikuti lonjakan harga kebutuhan pokok, terutama beras. Jadi, alasan ‘cantolan’ ini sangat tidak masuk akal secara ekonomi,” tegas salah satu anggota Tim.
Kritik utama tertuju pada efisiensi APBD. Jika harga riil Dexlite di SPBU jauh di bawah Rp17.900 (misalnya di kisaran Rp14.000 – Rp15.000), maka akan terdapat selisih anggaran yang sangat besar hingga puluhan juta rupiah.
Perbandingan (Ilustrasi Selisih):
Komponen Versi DPA Dishub Estimasi Harga Pasar (Asumsi) Potensi Selisih/Liter
Harga Dexlite Rp17.900 Rp14.900 Rp3.000
Total (18.419 L)
*Rp329.700.100
*Rp274.443.100
*Rp55.257.000
Masyarakat kini mendesak adanya audit transparan. Jika anggaran tersebut “klop” di angka yang tinggi, publik khawatir akan adanya upaya “penggemukan” anggaran (markup) yang tidak didasarkan pada realita pasar.


