
Surabaya, centralberitanews.com – Ketika mendengar kata pengabdian masyarakat, banyak orang masih membayangkannya sebagai kegiatan seremonial: mengecat pos kamling, membersihkan taman, atau membuat seminar. Namun bagi kami, Tim Pengabdian Masyarakat RW 07 Kelurahan Wonorejo Tahun 2025, pengabdian adalah soal menyentuh kebutuhan riil masyarakat, satu per satu, dengan pendekatan yang membumi. Wonorejo Rungkut. Senin (9/6)
Kami bertemu dengan Bapak Dislam, seorang pelaku usaha mikro yang telah bertahun-tahun memproduksi figura dari rumahnya sendiri. Produk yang beliau hasilkan sangat layak jual, namun pemasarannya masih terbatas. Selama ini beliau hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan belum pernah menjual produknya secara online.
Melalui program ini, kami tidak langsung menawarkan teori-teori pemasaran digital. Kami memilih untuk mendampingi secara langsung, mulai dari membuatkan email, membuka akun Shopee, hingga melatih cara memotret produk menggunakan kamera HP. Kami mengajarkan cara menulis deskripsi produk yang sederhana namun informatif, serta menyusun daftar produk yang mudah dipahami oleh calon pembeli.
Kami menyadari bahwa proses digitalisasi bagi pelaku UMKM seperti Pak Dislam bukanlah perkara mudah, terutama bagi yang belum pernah berinteraksi langsung dengan platform e-commerce. Namun, dengan pendampingan secara bertahap dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, perlahan beliau mulai mengenal cara kerja Shopee. Meskipun transaksi belum langsung terjadi dalam jumlah banyak, akun toko online beliau kini aktif, dan beberapa calon pembeli mulai menanyakan produk melalui fitur chat. Hal sederhana ini kami anggap sebagai progres awal yang penting dan patut dihargai.
Kami juga memperkenalkan fitur voucher Shopee, membuat desain logo sederhana untuk usahanya, serta menyusun buku panduan cetak sebagai alat bantu ke depannya. Semua dilakukan dengan pendekatan partisipatif—kami tidak datang sebagai pengajar, tetapi sebagai rekan belajar bersama.
Pengalaman ini mengajarkan kami satu hal penting : UMKM tidak butuh teori yang rumit, mereka butuh teman untuk mulai melangkah. Proses digitalisasi usaha kecil memang tidak bisa instan, tetapi harus dimulai dari hal-hal paling dasar: rasa percaya diri, pemahaman teknologi secara sederhana, dan pendampingan yang sabar.
Melalui kegiatan pengabdian ini, kami berharap semakin banyak pelaku UMKM lokal yang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang di era digital. Bukan karena mereka langsung menguasai teknologi, tetapi karena mereka didampingi dengan pendekatan yang langsung praktik dan relevan dengan kebutuhan lapangan.


