Perpustakaan Digital Sekolah Perluas Akses Literasi Siswa di Sidoarjo.
Sidoarjo, centralberitanews.com – Perkembangan teknologi digital membuka peluang bagi sekolah untuk memperluas akses bacaan bagi siswa. Di Kabupaten Sidoarjo, program Perpustakaan Digital Sekolah yang dikembangkan Pustaka Media Guru memudahkan siswa mengakses buku sekaligus mengembangkan budaya membaca dan menulis.
Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana mengapresiasi pengembangan program literasi tersebut. Ia berharap kemudahan akses bacaan dapat mendorong anak-anak lebih gemar membaca dan mampu memahami isi buku yang dibacanya.
“Jangan sekadar membaca. Kalau bisa, setelah membaca harus diceritakan agar ada kemauan untuk membaca kembali,” ujar Mimik saat audiensi dengan Pustaka Media Guru di rumah dinas Wabup pada Senin (19/10/2026).
Menurutnya, kebiasaan membaca perlu ditumbuhkan sejak dini. Dengan menceritakan kembali isi bacaan, anak-anak tidak hanya membaca. Tetapi juga belajar memahami informasi dan menyampaikan kembali apa yang telah dipelajari.
“Kalau anak-anak ini diberikan wadah untuk menceritakan kembali kan akhirnya dia merasa didengarkan. Jadi, besoknya lagi dia akan mau membaca dan bercerita kembali agar kreativitasnya terus berjalan dengan banyak wawasan dan kosa-kata lewat membaca,” katanya.
Pemimpin Redaksi (Pemred) Pustaka Media Guru Eko Prasetyo menjelaskan bahwa program Perpustakaan Digital Sekolah merupakan upaya membumikan gerakan membaca dan menulis di tengah perkembangan teknologi. Melalui layanan tersebut, akses bacaan diharapkan semakin mudah, efektif, dan menyenangkan bagi siswa.
“Perpustakaan digital ini dapat diakses melalui aplikasi pada perangkat Android dan iOS secara gratis. Sistemnya juga memungkinkan sekolah memantau aktivitas membaca setiap siswa.
Mulai dari durasi membaca hingga jumlah buku yang telah dibaca,” ungkapnya. Eko juga mengatakan bahwa sekolah dapat menambah koleksi buku digital dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan pengadaan buku cetak. Selain menyediakan bahan bacaan, platform tersebut memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan cerpen dan karya tulis lainnya sebagai konten lokal.
“Membaca dan menulis tidak harus bergantung pada buku cetak. Anak-anak perlu mendapatkan akses bacaan yang mudah, efektif, dan menyenangkan,” jelasnya.
Ia berharap program tersebut dapat diperluas melalui kolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo untuk mengembangkan perpustakaan secara mandiri dengan melibatkan kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo Netti Lastiningsih menyambut baik upaya pengembangan budaya literasi tersebut. Ia menyebutkan, lebih dari 100 sekolah telah mengembangkan perpustakaan dengan sistem yang beragam.
“Penerapan perpustakaan digital perlu disesuaikan dengan kondisi sekolah yang telah memiliki sistem perpustakaan sendiri,” katanya.
Netti menambahkan, pengembangan layanan baru dapat berjalan beriringan dengan sistem yang sudah ada tanpa menimbulkan kebingungan bagi pengelola atau pihak sekolah.
Penyediaan bahan bacaan juga perlu memperhatikan jenjang pendidikan dan kemampuan membaca siswa. Untuk siswa kelas awal, misalnya, buku bergambar dan komik dengan teks sederhana dapat menjadi pilihan agar anak lebih mudah memahami isi bacaan.“Kami siap berkolaborasi dengan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), baik sekolah negeri maupun swasta, untuk memperkaya pengembangan perpustakaan di Kabupaten Sidoarjo.
Belajar itu bisa di mana saja dan kapan saja,” ujar Netty.Salah satu sekolah yang telah mulai menerapkan perpustakaan digital adalah SDN Sidodadi. Menurut Kepala SDN Sidodadi Anita Wanodiya Kurnia, sebelumnya kegiatan membaca di sekolahnya masih mengandalkan buku fisik.
Kehadiran perpustakaan digital memberikan alternatif bagi siswa untuk mengakses bahan bacaan sekaligus mengembangkan kreativitas.
Selain mengembangkan akses bacaan, SDN Sidodadi juga memberi ruang bagi siswa untuk menghasilkan karya melalui majalah digital Jenggala. Pada edisi ketiga tahun ini, sekolah tersebut berhasil meraih juara III majalah digital.Anita mengatakan, majalah digital menjadi wadah bagi siswa untuk menuangkan ide dan menyimpan hasil karya mereka.
Karya yang telah dipublikasikan juga dapat tetap diakses setelah siswa lulus dari sekolah.“Anak-anak senang karena sudah ada wadah untuk menampilkan karya mereka. Karya itu tidak hilang begitu saja setelah mereka lulus, tetapi bisa menjadi kenangkenangan sekaligus bukti kreativitas mereka selama bersekolah,” ungkapnya. (Dew).
(@.prm).
