
JOMBANG,centralberitanews.com – Komitmen Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dalam mendukung program ketahanan pangan nasional terus diwujudkan melalui langkah-langkah konkret di lapangan. Salah satu wujud nyata dukungan tersebut terlihat di wilayah Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, di mana jajaran Polsek Gudo turut aktif memfasilitasi para petani dalam proses pascapanen hingga penjualan hasil pertanian, khususnya komoditas jagung.
Kapolsek IPTU Rido Bargowo,”Menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari sinergi POLRI bersama masyarakat dalam rangka mendukung arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan ketahanan pangan yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan. Menurutnya, selama lebih dari sepekan terakhir, pihaknya secara intens mendampingi para petani dari sejumlah desa di wilayah Gudo, yaitu Desa Godong, Tanggungan, Mejoyo, dan Krembangan.
“Ini sebetulnya sudah berjalan sejak minggu lalu. Kami dari Polsek Gudo membantu memandu para petani dalam proses pengumpulan hasil panen jagung. Jagung-jagung ini kemudian dikumpulkan di satu lokasi untuk selanjutnya dijual ke Bulog,” ungkap IPTU Rido saat ditemui di lokasi pengumpulan hasil panen.
IPTU Rido menjelaskan, penjualan jagung ke Bulog menjadi peluang yang sangat baik bagi para petani karena harga yang ditawarkan cukup menguntungkan, yakni sebesar Rp6.400 per kilogram. Namun, ada sejumlah persyaratan teknis yang harus dipenuhi agar jagung bisa diterima dengan harga maksimal.
“Syarat utama dari Bulog adalah jagung harus dalam kondisi benar-benar tua, bersih, dan dikemas sesuai standar yang telah ditentukan. Selain itu, kadar air juga menjadi indikator utama. Jika kadar air terlalu tinggi, maka jagung bisa ditolak atau dibeli dengan harga yang jauh lebih rendah,” terangnya.
Dalam proses pendampingan ini, POLRI tidak hanya bertugas mengamankan dan mengawal, tetapi juga memberikan pemahaman kepada para petani terkait standar mutu dan teknis yang ditetapkan oleh Bulog. Hal ini penting agar hasil pertanian mereka dapat diterima dan dihargai dengan layak.
“Jagung yang tidak memenuhi standar, misalnya kadar air di atas 14 persen, hanya akan dihargai Rp5.500 per kilogram atau bahkan tidak dibeli sama sekali. Tapi alhamdulillah, jagung milik petani di wilayah kami cukup bagus. Dari hasil uji yang dilakukan tim Bulog, kadar airnya hanya 12,9 persen, artinya memenuhi syarat dan bahkan masuk dalam kategori kualitas tipe A,” jelas IPTU Rido.
Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa dari hasil pengumpulan selama sepekan ini, total jagung yang telah berhasil dikumpulkan mencapai kurang lebih 11 ton. Jagung-jagung tersebut rencananya akan langsung dikirim ke Bulog sebagai bagian dari program penyerapan hasil petani lokal untuk memperkuat cadangan pangan nasional.
“Kami harapkan program ini dapat terus berlanjut dan diperluas. Keberhasilan ini bukan hanya soal harga yang layak, tapi juga soal kepastian pasar bagi petani. Ini memberikan motivasi dan semangat baru bagi para petani untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen mereka,” imbuhnya.
IPTU Rido juga menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan kebijakan nasional yang menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu program prioritas. POLRI, kata dia, akan terus menjadi mitra strategis dalam mendukung petani dan menjaga stabilitas distribusi pangan di tengah tantangan global seperti krisis iklim, ketegangan geopolitik, dan inflasi harga pangan.
Dengan pendampingan aktif dari aparat keamanan, petani kini merasa lebih diperhatikan dan dilibatkan dalam pembangunan nasional. Sinergi antara petani, pemerintah, dan aparat penegak hukum seperti ini menjadi modal sosial yang penting dalam mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan di masa depan.


