
JOMBANG,centralberitanews.com – Persoalan drainase dan kualitas jalur pedestrian menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Jombang sepanjang 2026. Melalui Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim), pemerintah daerah mengalokasikan sekitar Rp1,1 miliar untuk pemeliharaan trotoar sekaligus normalisasi saluran drainase di enam ruas jalan kawasan perkotaan.
Enam ruas yang menjadi sasaran program tersebut meliputi Jalan Pahlawan, Jalan Ahmad Dahlan, Jalan Gubernur Suryo, Jalan Patimura, Jalan Sultan Agung, dan Jalan Hayam Wuruk.
Program dilaksanakan secara swakelola. Pekerjaan tidak berhenti pada pembenahan tampilan trotoar, tetapi juga menyasar bagian yang justru tidak terlihat dari permukaan, yakni saluran drainase yang berada di bawah jalur pedestrian.
Pembersihan sedimentasi, pengecatan kanstin, bak kontrol, hingga tutup manhole menjadi bagian dari pekerjaan yang dilakukan. Penanganan juga dilakukan di sejumlah titik, termasuk kawasan SMPN 2 Jombang.
Kepala Dinas Perkim Kabupaten Jombang, Ir. Dian Kusuma Rahmad Subekti, S.T., M.Si., mengatakan pemeliharaan tersebut diarahkan untuk menjaga agar infrastruktur perkotaan tidak hanya terlihat baik, tetapi juga tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
“Selain itu masih ada ruas yang dikerjakan di SMPN 2 Jombang, ngecat kanstin, bak kontrol, tutup manhole, serta membersihkan sedimentasi yang ada di dalam saluran di bawah trotoar. Itu yang disebut upah pekerja,” ujar Dian, Kamis (1/10/2026).
Yang Tak Terlihat Justru Menentukan Fungsi Trotoar
Menurut Dian, keberadaan saluran drainase di bawah trotoar memiliki peran penting dalam menjaga kawasan perkotaan, khususnya ketika curah hujan meningkat.
Sedimentasi yang dibiarkan menumpuk dapat mengurangi ruang aliran air. Jika kondisi tersebut tidak ditangani, fungsi saluran bisa terganggu dan berpotensi berdampak pada munculnya genangan.
Karena itu, normalisasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pemeliharaan trotoar. Saluran dibersihkan agar aliran air dapat kembali berjalan secara lebih optimal.
“Harapan saya untuk pemeliharaan trotoar ini, terutama secara fungsi, trotoar itu bisa digunakan maksimal. Yang jelas apabila nanti musim hujan, di bawahnya pasti ada saluran. Saluran itu bisa berfungsi maksimal, tidak ada genangan atau minimal mengurangi genangan dari sebelumnya karena sudah dilakukan normalisasi,” jelasnya.
Pekerjaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemeliharaan fasilitas publik tidak hanya berbicara mengenai apa yang tampak di permukaan. Infrastruktur yang tersembunyi di bawahnya juga menentukan apakah fasilitas tersebut benar-benar dapat menjalankan fungsinya.
Dari Trotoar Rapi hingga Ruang Aktivitas Warga
Di sisi lain, pembenahan trotoar diarahkan untuk menciptakan jalur pedestrian yang lebih tertata, bersih dan nyaman.
Dian mengatakan, trotoar yang terawat diharapkan dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan fasilitas pedestrian, sekaligus memperkuat wajah kawasan perkotaan Jombang.
“Yang jelas trotoar itu sudah dipelihara biar kelihatan rapi, indah, menarik orang untuk mau datang ke Jombang ataupun menggunakan fasilitas jalan kaki,” katanya.
Bukan hanya untuk berjalan kaki, fasilitas pedestrian yang tertata juga dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang aktivitas fisik.
“Orang bisa olahraga, lari dan jalan kaki di situ. Seandainya nanti bisa dan sebagainya, kelihatan rapi dan pantas dipertontonkan, baik orang dari Jombang sendiri ataupun dari luar kota Jombang,” ungkapnya.
Konsep tersebut menempatkan trotoar bukan sekadar pelengkap badan jalan. Ketika dirawat dengan baik, jalur pedestrian dapat menjadi bagian dari ruang publik yang mendukung mobilitas sekaligus aktivitas masyarakat.
Menjaga Infrastruktur agar Tak Cepat Kehilangan Fungsi
Pemeliharaan menjadi faktor penting untuk menjaga hasil pembangunan tetap memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Trotoar yang telah dibangun membutuhkan perawatan agar permukaan maupun fasilitas pendukungnya tetap layak. Demikian pula saluran drainase yang berada di bawahnya perlu dibersihkan secara berkala agar tidak kehilangan kapasitas akibat sedimentasi.
Melalui pekerjaan swakelola tersebut, Dinas Perkim berupaya menangani kedua aspek itu secara bersamaan.
Bagian atas ditata agar nyaman digunakan, sedangkan bagian bawah dinormalisasi agar tetap mampu mengalirkan air.
Dian menyebut pemeliharaan trotoar merupakan bagian dari upaya Pemkab Jombang meningkatkan kualitas infrastruktur perkotaan dan fasilitas publik.
Menurutnya, langkah tersebut juga sejalan dengan komitmen Bupati Jombang Warsubi dalam memperbaiki infrastruktur serta meningkatkan fasilitas yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Pemeliharaan ini bagian dari upaya meningkatkan kualitas infrastruktur perkotaan, sehingga fasilitas publik yang ada bisa tetap berfungsi dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Dengan anggaran sekitar Rp1,1 miliar, program yang menyasar enam ruas jalan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan trotoar yang lebih rapi secara visual. Lebih jauh, pekerjaan ini ditujukan untuk menjaga fungsi drainase, menekan potensi genangan, serta menghadirkan jalur pedestrian yang lebih nyaman bagi warga.
Sebab, kualitas sebuah kawasan perkotaan tidak hanya diukur dari seberapa bagus bangunan dan jalannya terlihat, tetapi juga dari seberapa baik fasilitas publik dirawat dan benar-benar dapat digunakan masyarakat.


