
Magetan, Centralberitanews.com — Tasyakuran Labuhan Sarangan yaitu upacara adat bersih desa tahunan di Telaga Sarangan Magetan, sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME atas berkah dan memohon keselamatan.
Tradisi ini biasanya digelar setiap Jumat Pon di Bulan Ruwah (Jawa), yang puncaknya adalah larung tumpeng dan sesaji ke telaga.
Dimana kegiatan ini sebagai wujud ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan dan alam yang ada di lereng Gunung Lawu terhadap masyarakat di lingkungan Sarangan.
Kegiatan tersebut dikemas dalam festival budaya (Sarangan Festival) dengan kirab budaya, reog, dan hiburan rakyat, serta ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) pada 2025 dalam kategori Adat Istiadat, Ritus, dan Perayaan Tradisional.

Ratusan warga Kelurahan Sarangan Kecamatan Plaosan, berbondong – bondong dengan membawa rantang berisi makanan dan hasil bumi lainnya secara lengkap dan kerumun di tepian Telaga Sarangan
Makanan yang dibawa beragam. Ada yang membawa nasi tumpeng, ayam panggang, serta aneka lauk-pauk lain. Kerupuk atau peyek dan buah pisang juga dibawa.
Rangkaian acara diawali dengan pementasan tari tradisional, kirab budaya mengelilingi kawasan telaga, prosesi pelarungan tumpeng ke perairan Sarangan, serta ditutup dengan makan bersama masyarakat setempat. Suasana perayaan tahun ini terasa lebih hidup dibandingkan tahun sebelumnya, seiring meningkatnya jumlah pengunjung yang hadir.
Dalam sambutannya, bupati Magetan Nanik Sumantri menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mengembangkan sektor pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat.
“Labuhan Sarangan bukan sekadar ritual, ataupun upacara adat, tetapi juga media promosi pariwisata Magetan sebagai destinasi yang kaya budaya, berkarakter, dan berkelanjutan,” jelasnya.

Sementara itu, Lurah Sarangan Sudiharto menerangkan bahwa Labuhan Sarangan dilakukan rutin setiap tahun. Adapun rangkaian acara tersebut dimulai sejak Kamis (15/02/2026).
“Hari kamis masyarakat sarangan menyembelih kambing di punden, lalu dilanjutkan tasyakuran dan tirakat. Dan hari Jumat ini digelar tradisi labuhan dengan tumpeng Gono Bahu dilarung ke tengah telaga.” Ujarnya
Sarangan Festival tidak sekadar perayaan, tetapi menjadi ruang hidup bagi tradisi yang terus dijaga dari generasi ke generasi. Di tengah pesona alam Telaga Sarangan, kekuatan doa, budaya, dan kebersamaan kembali menyala, menegaskan Sarangan sebagai salah satu simpul penting warisan budaya di Jawa Timur.
Dimana labuhan Sarangan merupakan wujud pelestarian kearifan lokal sekaligus daya tarik wisata yang berkontribusi pada peningkatan kunjungan ke Telaga Sarangan setiap tahunnya.
(Nd)


